Cari Tau

Aliran Mu'tazilah

1. Suasana Lahirnya

Aliran Mu’tazilah merupakan aliran theologi Islam terbesar dan tertua, yang telah memainkan peranan penting dalam sejarah dunia Islam
Aliran Mu’tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama Hijriah di kota Basrah (Irak), pusat ilmu dan peradaban Islam dikala itu, tempat peraduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama. Pada waktu itu banyaklah orang-orang yang hendak menghancurkan Islam dari segi Akidah, baik mereka yang menamakan dirinya Islam maupun tidak. Sebagaimana diketahui, ejak Islam meluas banyaklahbangsa-bangsa yang masuk Islam dan hidup dibawah naungannya.
Akan tetapi tidak semuanya memeluk agama ini dengan segala keikhlasan. Ketidak ikhlasan ini terutama dimulai sejak permulaan masa pemerintahan khilafat Umawi, disebabkan karena khalifah-khalifah Umawi memonopoli segala kekuasaan negara kepada orang-orang islam dan bangsa Arab sendiri. Tindakan mereka menimbulkan kebencian terhadap bangsa Arab dan menyebabkan ada keinginan untuk menghancurkan Islam itu sendiri dari dalam, karena Islam menjadi sumber kejayaan dan kekuatan mereka, baik psykis maupun mental.
Dalam keadaan demikian muncullah aliran Mu’tazilah yang kemudian berkembang dengan pesatnya, serta mempunyai metode dan paham sendiri.
2. Asal Usul Sebutan Mu’tazilah

Riwayat tentang asal usul sebutan Mu’tazilah ada tiga, yang kesemuanya berkisar sekitar arti kata-kata “I’tazala” yang artinya memisahkan diri;
a. Disebut Mu’tazilah karena Wasil Bin Ata dan Amr bin Ubaid menjauhkan diri dari pengajian Hasan Basri di Mesjid Basrah, kemudian membentuk pengajian sendiri, sebagai kelanjutan pendapatnya bahwa orang yang mengerjakan dosa besar tidak mu’min lengkap, juga tidak kafir lengkap, melainkan berada dalam suatu tempat di antara dua tempat tersebut.
b. Menurut riwayat lain, disebut Mu’tazilah karena mereka menjauhkan (menyalahi) semua pendapat yang telah ada tentang orang yang mengerjakan dosa besar. Golongan Murjiah mengatakan bahwa pembuat dosa besar masih termasuk orang mu’min. Menurut golongna Khawarij Azariqah ia menjadi kafir.
c. Disebut Mu’tazilah karena pendapat mereka yang mengatakan bahwa pembuat dosa besar berarti menjauhkan diri dari golongan orang-orang mu’min dan juga golongan orang-orang kafir.



Dari ketiga riwayat di atas, dapatlah ditarik kesimpulan , yaitu;
1. Peristiwa timbulnya aliran Mu’tazilah ialah sekitar Hasan Basri dan kedua muridnya,yaitu Wasil bin Ata dan Amr bin Ubaid ( Hasan Basri hidup 642-728 M).
2. Aliran Mu’tazilah timbul karena persoalan agama semata-mata.
Golongan yang disebut Mu’tazilah sebelum Hasan Basri ialah mereka yang ikut serta dalam persengketaan yang terjadi sesudah Usman r.a wafat, antara Talhah dan Zuber di satu pihak dan Ali r.a di lain pihak.
3. Tokoh – Tokoh Aliran Mu’tazilah

Tokoh aliran Mu’tazilah banyak jumlahnya dan masing-masing mempunyai pikiran dan ajaran-ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya atau tokoh-tokoh pada masanya, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran sebdiri. Dari segi geografis, aliran Mu’tazilah dibagi menjadi dua, yaitu aliran Mu’tazilah Basrah dan aliran Mu’tazilah Bagdad.
Perbedaan antara kedua aliran Mu’tazilah tersebut pada umumnya disebabkan karena situasi geografis dan kulturil. Kota Basrah terlebih dahulu didirikan daripada kota Bagdad dan lebih dahulu mengenal peraduan aneka ragam kebudayaan dan agama.
Tokoh-tokoh aliran Basrah antara lain Wasil bin Ata, al Allaf, an Nazzham, dan al Jubbai. Tokoh-tokoh aliran Bagdad antara lain Bisyr bin al Mu’tamir, al Khayyat.
4. Ajaran – Ajaran Pokok Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah berdiri atas lima prinsip utama yang diurutkan menurut kedudukannya dan kepentingannya, yaitu ;
a. Keesaan (at-tauhid).
Tauhid sebagai aqidah pokok dan yang pertama dalam Islam tidak diciptaka oleh aliran Mu’tazilah. Hanya karena mereka telah menafsirkan dan mempertahankannya sedemikian rupa, maka mereka dipertalikan dengan prinsip Keesaan itu.
b. Keadilan ( Al-‘adlu)
Semua orang percaya akan keadilan Tuhan. Tetapi aliran Mu’tazilah seperti biasanya memperdalam arti keadilan serta menentukan batas-batasnya, sehingga menimbulkan beberapa persoalan.
Dasar keadilan yang dipegangi oleh mereka ialah meletakkan pertanggungan jawab manusia atas segala perbuatannya.
c. Janji dan ancaman ( al-Wa’du wal Wa’idu)
Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip keadilan Tuhan . aliran Mu’tazilahyakin bahwa jnaji Tuhan akan memberikan pahalaNya dan ancaman akan menjatuhkan siksaNya atas mereka pada hari kiamat pasti dilaksanakanNya, karena Tuhan sudah mengatakan demikian. Sipa yang keluar dari dunia dengan segala ketaatan dan penuh taubat ia berhak akan pahala. Barangsiapa keluar dari dunia tanpa taubat dari dosa besar yang pernah dilakukannya maka ia akan diabadikan dalam neraka, meskipun lebih ringan siksanya daripada orang kafir.
Pendirian ini adalah kebalikan sama sekali dengan pendirian golongan Murjiah yang mengatakan bahwa kema’siatan tidak mempengaruhi iman. Kalau pendirian ini dibenarkan, maka ancaman Tuhan tidak akan ada artinya suatu hal yang mustahil pada Tuhan.
Karena itu mereka mengingkari adanya Syafaat pada hari kiamat, dengan mengesampingkan ayat-ayat yang menetapkan syafiat, karena syafaat menurut mereka berlawanan dengan prinsip janji dan ancaman.
d. Tempat di antara dua tempat (al manzillu bainal manzilataini), dan
Karena prinsip ini, Wasil bin Ata memisahkan diri dari majlis Hasan Basri, seperti yang disebutkan di atas. Menurut pendapatnya, seseorang muslim yang mengerjakan dosa besar selain syirik (mensekutukan Tuhan), bukan lagi menjadi mu’min tetapi juga tidak menjadi kafir, melainkan menjadi orang fasik. Jadi kefasikan merupakan tempat tersendiri antara “kufur” dan “iman”. Tingkatan seorang fasik berada di bawah orang mu’min dan di atas orangt kafir.
Sumber lain dari prinsip jalan tengah ialah filsafat Yunani, antara lain Aristo yang terkenal denga teori “jalan tengan emas” (golden means) yang mengatakan bahwa tiap-tiap keutamaan merupakan jalan tengah antara kedua ujungnya yang jelek. Keberanian misalnya, adalah tengah-tengah antara gegabah dan penakut, kedermawanan adalah tengah-tengah antara penghamuran dan kikir, penghargaan diri juga ditengah-tengah antara kesombongan dan kehinaan diri.
Plato dalam salah satu percakapannya mengatakan, apabila sesuatu tidak baik, tidak berarti buruk sama sekali, begitupun sebaliknya.artinya ad satu tingkatan antara kebaikan dan keburukan, seperti ada dalam Roh yang menjadi perantara antara Tuhan dan manusia dan yang mondar mandir antara alam atas (langit) dan alam bawah (bumi).
Dengan dasar sumber-sumber keislaman dan sumber-sumber Yunani tersebut, maka aliran Mu’tazilah lebih memperdalam pemikirannya tentanng jalan tengah tersebut, sehingga menjadi prinsip dalam lapangan berfikir dan akhlak dan menjadi landasan berfilsafat, yang selalu menghendaki bersikap sedang dalam segala hal, mengambil jalan tengah antara dua hal yang berlebih-lebihan dan memepertemukan dua hal yang berlawanan. Menyuruh kebaikan dan melarang keburukan ( amar ma’ruf nahi munkar).
Prinsip ini lebih banyak bertalian dengan amal lahir dan lapangan fiqh daripada lapangan kepercayaan dan ketauhidan. Banyak ayat-ayat Qur’an yang memuat prinsip ini (baca Ali Imron 104, Lukman 17), prinsip mana harus dijalankan oleh setiap muslim untuk menyiarkan agama dan memberi petunjuk kepada orang yang sesat.
Sejarah pemikiran Islam menunjukan betapa giatnya orang-orang Mu’tazilah mempertahankan Islam terhadap kesesatan yang tersebar luas pada permulaan masa Abbasi yang hendak menghancurkan kebenaran-kebenaran Islam, bahkan mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan dalam melaksanakan prinsip tersebut, meskipun terhadap golongan-golongan Islam sendiri, sebagaimana yang telah dialami oleh ahli hadis dalam masalah Qur’an. Menurut orang-orang Mu’tazilah, orang-orang yang menyalahi pendirian mereka dianggap sesat dan harus diluruskan.

5. Filsafat Aliran Mu’tazilah

a. Sinkretisme Agama dan Filsafat
Ajaran agama mengatakan bahwa alam semesta ini baru dan diadakan oleh Tuhan dari tiada, sedang filsafat mengatakan bahwa alam semesta ini qadim yang akan selalu ada dan tidak mungkin sesuatu terjadi dari tiada. Orang Mu’tazilah mendapati dua jaran ini berlawanan, kemudian mereka berusaha mempertemukannya, antara lain;
Al Allaf
Ia mengatakan bahwa gerak gerik ahli sorga dan ahlineraka akan berakhir dan menjadi ketenangan abadi, dimana mereka tidak bisa menggerakan anggota badannya dan tidak pula bisa meninggalkan tempatnya.
Seolah olah Al Allaf hendak mengatakan bahwa apa yang disebut “Penciptaan” (Khalk) oleh agama ialah perubahan atau memberi gerak, yaitu dengan jalam memasukan gerakan pada benda yang diciptakan. Jadi alam semesta ini sebelum diciptakan mula-mula dalam keadaan tenang diam kemudian diciptakan oleh Tuhan dengan jalan menggerakannya. Dengan perkataan lain alam semesta ini qadim seperti yang dikatakan filsafat, sedang yang dimaksud dengan penciptaan seperti yang dikatakan agama tidak lain hanya memberi gerak dan pemusnahan itu tidak lain hanya menghentikan gerakan tersebut.
Muammar bin Abbad
Menurut Mu’ammar, hancurnya (fana) sesuatu bertempat pada lainnya. Kalau Tuhan menghendaki alam hancur dan kehancuran ini sudah terjadi maka, Tuhan membuat sesuatu yang lain, untuk menjadi tempat hancurnya alam. Kalau Tuhan hendak menghancurkan sesuatu yang lain ini yang menjadi tempat hancurnya alam, maka Tuhan menjadikan sesuatu yang lain lagi, untuk menjadi tempat baru bagi hancurnya alam, dan begitu seterusnya. Adalah mustahil kalau semesta alam ini hancur sama sekali kemudian menjadi tiada yang ada hanya Tuhan.
Mu’ammar menetapkan kekuasaan Tuhan untukmenghancurkan alam, jadi ia memegangi ketentuan agama. Tetapi ia juga mengatakan bahwa alam semesta ini hancur dalam alam lain yang menggantikannya. Jadi ia memustahilkan kehancuran mutlak, dan dengan demikian ia tetap berpijak pada filsafat.
Apa yang dimaksud dengan filsafat tersebut ialah pikiran Aristoteles yang tidak bis amelepaskan diri dari pikiran kebendaan, sehingga ia sukar membayangkan terjadi benda dari tiada, dan oleh karenanya ia mengatakan qadimnya benda. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Henry Bergson sebagai berikut “ sebagian dari akal pikiran diciptakan untuk membiasakan mengetahui alam kebendaan, dan dari lingkungan kebendaan ini akal pikiran tersebut mendapatkan kebanyakan gambarannya ”
Usaha pemaduan agama dengan filsfat dan pengambilan jalan tengah merupakan rintisan karya pikiran yang penting dari aliran Mu’tazilah dan yang diwariskannya kepada orang-oarng yang datang sesudahnya. Sejarah dunia pikir Islam menunjukan, bahwa setelah kegiatan aliran Mu’tazilah berakhir, maka karya pikiran tersebut dilanjutkan oleh golongan filosof murni, seperti Ichwanussafa, Ibnu Sina dan seterusnya, yang kesemuanya telah menempuh jalan sinkretisme antara nas-nas agama denga filsafat, sebagaimana dilanjutkan oelh Imam al Asy’ari yang dalam pemikirannya mengambil jalan tengah antara paham Mu’tazilah dengan aliran ahli hadis.
b. Metafisika
Asal Kejadian Alam
Aliran Mu’tazilah mengakui bahwa Tuhan menjadikan alam, bahwa Tuhan mendahului segala hal yang baru dan sudah wujud sebelu ada mahlukNya. Timbulah pertanyaan, dari apakah alam ini dibuat? Baik orang Mu’tazilah maupun golongna-golongan lain mengatakan bahwa alam ini dibuat dari tiada (adam).
Pengertian adam menurut kaum muslimin ialah adam yang mutlak, artinya tidak ada sama sekali, baik dalam kenyataannya maupun dalam gambaran pikiran. Akan tetapi aliran Mu’tazilah mempunyai tafsiran lain terhadap adam tersebut. Karena adam ini di anggapnya sebagai bahan alam semesta ini. Jadi alam semesta ini menurut aliran Mu’tazilah terdiri dari dua bagian, yaitu bahannya yang diambil dari adam dan wujudnya yang diambil dari Tuhan. Dengan perkataan lain adam ialah metter alam semesta dan wujud ialah form atau bentuk.

Tata Susunan Alam
Sesudah membicarakan adam sebagai asal kejadian alam semestaini, aliran Mu’tazilah melanjutkan pembahasannya tentang hukum yang menggeraknya. Dalam hal ini mereka mengambil pikiran –pikiran orang Stoic yang mengakui adanya hukum keharusan yang mutlak dan tetap (hukum alam) yang menguasai alam ini, karena tiap-tiap benda mempunyai tabiat dan daya kerjanya masing-masing. Akan tetapi hukum keharusan ini tidak menguasai Tuhan, karena Tuhan itu bukan benda/alam sebagaimana juga tidak menguasai perbuatan manusia, karena tabiat manusia berada di atas benda. Dengan demikian, aliran Mu’tazilah telah dapat menyelamatkan teori yang sama dengan etika Kant yang datang sesudah mereka.

6. Tinjauan Tentang Aliran Mu’tazilah

Sejarah umat Islam tidak mengenal pembahasan yang bercorak filsafat dan lengkap tentang Tuhan, sifat-sifat dan perbuatanNya dengan disertai dalil-dalil akal pikiran dan alasan-alasan naqal sebelum lahir aliran Mu’tazilah.
Filosof-filosof Islam mengawang di angkasa dan tidak berhubungan denga agama kecuali sekedar mempertemukannya dengan filsafat dan kedudukannya dikalangan kaum muslimin laksana kedutaan Yunani di negeri Islam. Aliran Mu’tazilah benar-benar menyelami kehidupan beragama dengan memberikan tuntunan dan mereka tidak puas kalau menyendiri, sebagaimana yang dikatakan sejarah terutama pada masa Abbas, dimana kaum muslimin diancam dari kanan kiri oleh aliran-aliran/agama yang kesemuanya merupakan lawan-lawan kepercayaan Islam.
Setelah beberapa tahun lamanya aliran Mu’tazilah mencapai kepesatan dan kemegahannya, terutama pada masa khalifah-khalifah al M’mun, al Mu’tasim, dan al Watsiq, akhirnya mereka mengalami kemunduran. Kemunduran ini adalah karena perbuatan mereka sendiri. Mereka tidak mempertahankan kebebasan berfikir, tetapi mereka sendiri memusuhi orang-orang yang tidak mengikuti paham mereka. Puncak tindakan mereka ialah ketika al Ma’mun menjadi khilafah, dimana mereka bis amemaksakan paham dan keyakinannya kepada golongan-golongan lain dengan menggunakan kekuasaan al Ma’mun yang telah mengakibatkan timbulnya suatu peristiwa terkenal dengan nama peristiwa Quran apakah azal atau non azali dan menurut aliran Mu’tazilah Qur’an itu non azali.



Artikel Terkait



0 komentar: